Sabtu, 25 Maret 2017

Situs Batu Bedil












Bayah adalah sebuah kecamatan yang di Kabupaten Lebak, Propinsi Banten, Indonesia.  Berada ditanah milik kesepuhan adat Bayah. Situs Batu Bedil ini merupakan sebuah tinggalan masa pra aksara berupa batu monolith berbentuk menhir. Situs ini terletak dikawasan perkebunan yang bernama Cikiruh milik kesepuhan adat Bayah yang luas kawasannya 5000 m. uniknya menhir ini berada dalam kemiringan dinding bukit, sehingga terlihat seperti bedil yang mencorong mengarah ke selatan. Menhir ini merupakan batu tegak yang berdiri dari beberapa kumpulan batu tegak lainnya yang disusun rapat dengan ukuran bervariasi. Batu tegak yang paling besar memiliki ukuran 2,5 m dari permukaan tanah dengan diameter 3 m sampai 1 m dari permukaan tanah. Kemungkinan posisi batu yang miring ini disebabkan karna adanya kejadian alam dan di pulgar, sehingga merubah posisi batu yang semula tegak menjadi miring.
A.    Lokasi Situs Batu Bedil
situs Batu Bedil terletak di Kampung Cinangga, Desa Bayah Timur, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Jarak dari terminal Bayah ke lokasi adalah 12 km.akses ke tempat lokasi, anda dapat menggunakan kendaraan pribadi ataupun menggunakan kendaraan umum. Jika menggunakan kendaraan umum, biaya atau ongkos yang harus dibayar sebesar Rp.5000 tetapi, itu belum sampai ke lokasi karena dari jalan umum ke lokasi itu sekitar 500 m.
B.     Sejarah Situs Batu Bedil
situs Batu Bedil merupakan sebuah peninggalan dari Raden Kiansantang putra dari Raja Padjadjaran yaitu Raja Prabu Siliwangi. Situs Batu Bedil digunakan sebagai tempat peristirahatan Raden Kiansantang ketika beliau melakukan perjalanan dalam pengembaraannya.
Luas wilayah situs ini adalah 500 m, menurut pengamatan arkeologi situs ini didirikan ribuan tahun kebelakang, tidak ada yang tahu pasti tahun berapa situs ini didirikan karena adanya situs ini bersamaan dengan hidupnya Raden Kiansantang. Tetapi situs ini mulai dipulgar pada tahun 1986 oleh para pengurus kepurbakalaan bersama pemilik kebun yaitu yang bernama Sahyong dengan bertujuan untuk tetap dijaga dan menjadi data cagar budaya. Pada tahun 1992, situs ini mulai diresmikan sebagai benda peninggalan dan menjadi cagar budaya dengan dibuatnya papan cagar budaya dan papan peringatan larangan untuk dirusak.
Situs ini dinamakan Batu Bedil, dikarenakan menyerupai bentukdari pistol, berdasarkan daerah atau penduduk sekitar bahasa sehari-harinya bahasa sunda maka dinamakan bedil dan tumpukan-tumpukan batunya menyerupai pistol, salah satu batunya yang paling menarik adalah menjulang atau berdiri tegak dan ada yang mirip seperti pelatuk pistol untuk menembakan pelurunya. Situs ini berada dalam hutan dan tidak jauh dari situs ini sebelah timur sumber mata air, maka tak heran jika situs ini kurang pengunjung dan ironinya banyak masyarakat sekitar tidak tau tempat situs ini hanya tahu berupa namanya saja.
Yang paling menarik dari situs ini adalah posisi tumpukan-tumpukan batunya berada dalam kemiringan bukit sehingga mencorong ke arah selatan dan seperti sebuah bedil (pistol). Diketahui asal mula posisi batu ini tidak miring seperti sekarang, melainkan datar dan tegak. Menutut pengamatan, sebagian dari batu-batu ini ada yang berasal dari potongan-potongan kayu, dan dengan berjalannya waktu yang sangat lama potongan kayu tersebut mengeras seperti batu, karena tumpukan-tumpukan batu dari situs ini seperti balokan kayu
.
C.    Deskripsi Situs Batu Bedil
Situs Batu Bedil ini berdiri di atas tanah seluas 500 m dengan tumpukan-tumpukan batu yang bersegi empat  panjang, batu ini merupakan batu tegak yang berdiri dari beberapa kumpulan batu tegak lainnya yang disusun rapat dengan ukuran bervariasi. Batu tegak yang paling besar memiliki ukuran 2,5 m dari permukaan tanah dengan diameter 3 m sampai 1 m dari permukaan tanah. Kemungkinan posisi batu yang miring ini disebabkan karna adanya kejadian alam dan di pulgar, sehingga merubah posisi batu yang semula tegak menjadi miring.

D.    Fungsi Situs Batu Bedil
Fungsi dari Situs Batu Bedil ini pada masa Raden Kiansantang yaitu sebagai tempat peristirahatan Raden Kiansantang bersama prajurit-prajuritnya. Pada saat itu Raden Kiansantang mengembara kedaerah-daerah sini dan berdiam diri untuk menghilangkan rasa lelahnya di Situs Batu Bedil. Namun pada saat ini Situs Batu Bedil berubah fungsi menjadi cagar budaya, tempat pariwisata dan sebagai tempat pembelajaran.

E.     Kondisi Situs Batu Bedil
Situs Batu Bedil berada di dalam hutan, 500 m jarak dari jalan umum menuju ke lokasi. Tumoukan batu-batunya berada dalam kemiringan bukit yang menjadikan sebuah ciri khas dari situs ini. Tetapi sangat disayangkan situs ini kurang adanya perhatian dari pihak pemerintah, bagaimana tidak, batu ini tidak dikelilingi atau tidak diberi perlindungan seperti diberi pagar. Bahkan ironinya tidak banyak dari pengunjung yang berani naik ketumpukan batu hanya untuk berfoto dan tidak memikirkan atau menyadari akan kerusakan yang disebabkan oleh perlakuannya. Dan tidak ada perlindungan atap, sehingga jika ada kayu yang patah dari pepohonan langsung mengenai tumpukan-tumpukan batu. Mungkin semua hal ini kurang adanya kesadaran dari masyarakat sekitar, pengunjung dan kepemerintahan. Tetapi menurut kuncen Situs Batu Bedil yaitu Saefur Rahman, mengatakan  pemerintah tepatnya balai pelestarian kepurbakalaan menjanjikan situs ini akan dipagar tetapi sampai saat ini belum ada bukti dari janji tersebut.
Wawancara
1.      Nara sumber    : Saefur Rahman
Usia                 : 47 tahun
Waktu             : 16.58 WIB /  06-11-2015
Tempat            : kp.Cinangga

Profesi             : PNS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar